UKM TERAFO - Wijaya Putra Berdayakan Masyarakat Randupadangan Produksi Susu Sapi

Melalui Unit Kegiatan Mahasiswa TERAFO (Terbitan Info),kampus di Surabaya ini terlibat memberdayakan masyarakat atas produksi susu sapi.

 

 

Program mahasiswa ini dilakukan di Desa Randupadangan Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik. Dengan ketekunan yang ditunjukan, mahasiswa-mahasiswa ini mendapatkan dana peningkatan perekonomian melalui Program Holistik Bina Desa (PHBD). “UKM TERAFO turun ke masyarakat langsung. Kami ingin menunjukan pengabdian kepada masyarakat,” kata Joko Slamet, anggota UKM TERAFO Universitas Wijaya Putra (UWP) Surabaya ini.

 

 

Joko menyatakan, untuk turun dilapangan, dirinya ditemani anggota lain seperti Widi Ratna Nastiti, Choirudin Subandi, M. Iqbal Firdiansyah, Indah Darojatil, Prinsia Wahyu K, Yulinda Prastika, Achmad Firmansyah, Soraya Firdaus Al Zain dan Saiful dengan dibimbing oleh Surya Priyambudhi. Tim melakukan diskusi dan memutuskan untuk memanfaatkan sumber daya dan potensi yang ada di desa Randupadangan.

 

 

Pasalnya, di daerah tersebut terdapat potensi susu dan kotoran sapi. Susu sapi tersebut hanya dijual langsung tanpa melalui proses pengolahan yang lebih lanjut, sedangkan untuk kotoran sapi dibuang begitu saja ke sungai. Melihat hal tersebut UKM TERAFO yang tergabung dalam tim Program Holistik Bina Desa (PHBD) tahun 2019 mengusung program “SUGAR KOPI” atau Olahan Susu Segar dan Kotoran Sapi.

 

 

“Susu sapi yang selama ini dijual murni, sekarang kita olah dengan berbagai macam varian warna susu. Mulai Susu Sapi Aneka Rasa, Pudot Susu dan Puding yang diberi nama “Chu-Chu”. Sedangkan untuk kotoran sapi diolah menjadi Pupuk Organik Cair (POC) guna memanfaatkan  Sumber Daya yang ada dan juga mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan ke sungai desa,” terangnya.

 

 

Saat turun dilapangan, lanjut Widi Ratna Nastiti, timnya disambut baik oleh warga. Mereka sangat antusias saat mengikuti pelatihan, bahkan sebagian dari masyarakat sudah tidak sabar untuk memproduksi “SUGAR KOPI”. Warga merasa penasaran hasil yang akan dipertunjukan dalam program ini.

 

 

“Produksi susu dan kotoran sapi ini dikelola warga. Kami membentuk Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) yang diketuai Bapak Sulaiman. Selanjutnya kami memantau perkembangannya,” ungkap dia.

 

 

Sementara kondisi saat ini menunjukan, sejak 21 Agustus 2019 Chu-Chu sudah dipasarkan melalui media online (Whatsapp & Instagram) maupun secara offline dengan banyak varian rasa mulai dari rasa original, chocolate, strawberry, blackcurrent, taro, greentea dan capucinno mulai dari harga enam ribu rupiah untuk kemasan ekonomis 200ml dan Rp 10 ribu untuk kemasan 350ml.“Kami juga sudah meresmikan rumah produksi dan outlet Chu-Chu sebagai sarana pengelolaan susu sapi,” tutur Widi.(arif)